Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Maret 2019

Ajaran Sedulur Wong Samin, Budaya Leluhur Kapitayan Orang Jawa

Jateng7. Sejarah - Ajaran Wong samin sikep "mbancik agama adam" adalah bentuk pengakuan dalam pemahaman saminisme, "wonge sikep agomone adam".
Masyarakat umum menyebutnya WONG SAMIN, sebagian juga menyebutnya sedulur SIKEP.

Wong Samin ; Mbancik agama Adam sebagai ajaran leluhur.

Wong samin, menurut ajaran sikep adalah, "sami-sami" atau sama yang diartikan "saudara sebagai manusia saya juga manusia", "saudara sebagai makhluk, saya juga makhluk".

Seperti itulah pengertiannya dalam bahasa wong samin atau sikep. Sedulur sikep atau Wong Samin menjunjung tinggi "roso paseduluran, gotong royong tanpo nyawang kowe sopo lan agamamu opo kabeh kuwi sedulur yen gelem di'daku mergo kabeh jejere manungso iku nglakoni sing jenenge "SIKEP" yen gelem NGAKONI.

Baik, wong samin atau sedulur sikep itu hanya sebutan dari masyarakat diluar komunitas sikep saja, yang dijadikan PENGAKUAN dalam ajaran sikep adalah Wong sikep mbancik agama adam. Apakah ini ajaran Hindu.....? BUKAN....!!!

Ajaran asli Nusantara terdahulu yang masih terekam pada Saminisme bukan Hindu dan bukan Animisme atau Dinamisme, itu hanya LABELING barat saja.

Paham dan dasar Saminisme ini sudah ada terlebih dahulu sebelum ajaran yang bernama AGAMA ada di muka bumi. 

Banyak terekam dalam budaya asli Nusantara misalnya Kapitayan, Sundawiwitan, Marapu, Aluktodola, Kaharingan, Tolotang, Tengger, Bali dan lainnya.

Lanjut tentang SAMIN, orang diluar komunitas sikep mengkelompokkan wong samin sikep menjadi 4 bagian ;

1. Samin amping-amping : Orang yang mengaku samin tapi prilakunya tidak seperti samin.

2. Samin sangkak : Orang samin yang prilakunya sangkak, misal jika ditanya "ape neng ndi lur..? dijawab "ape meng'arep!" ditanya "teko ngendi lur...? dijawab "teko mburi!".

3. Samin sumoroto : Orang samin ini lebih terbuka terhadap orang diluar komunitas samin.

4. Samin dlejet : Orang samin yang kukuk menjaga tradisi samin, orang samin ini agak tertutup dengan orang diluar komunitas.

Itu adalah penilaian orang diluar komunitas sedangkan Wong Samin atau SIKEP mempunyai prinsip sendiri. 

Bahwa "Ajaran iku ninggal nggowo, endi sing ditinggal endi singdigowo kudu biso dimangerteni, sebab iki wes tatanan jowo kudune MAPAH GEDANG".

Nyandang penganggo belang blonteng, batik lurik abang ijo kuning putih ireng sing penting bener pengucape, becik kelakuane", "iku sing bakal dadi". Yang lebih penting dan menarik adalah kata :" 

Mbancik Agama Adam ""ADAM" Kata ini banyak terdapat pada ajaran asli Nusantara terdahulu yang masih terekam jejak sejarah hingga sekarang ini.

AGAMA KAPITAYAN, dalam keyakinan penganut kapitayan di Jawa, leluhur yang pertama kali dikenal sebagai penganjur Kapitayan adalah Danghyang Semar
manusia, pertama yang di turunkan ke dunia sesudah Adam.

Dalam kitab kuno Pramayoga dan Pustakaraja Purwa Silsilah Nabi Adam sampai Danghyang semar dijelaskan sebagai berikut ; Nabi Adam => Nabi Syis => Anwas dan Anwar => Hyang Nur Rasa => Hyang Wenang => Hyang Tunggal => Hyang Ismaya => Wungkuhan =>.

Smarasanta (Semar) hampir di setiap ajaran asli Nusantara terekam tentang ADAM, dari mana mereka tahu dan paham tentang manusia pertama, siapa yang mengajarkan nya....? Tentulah sebuah peradaban yang sudah sangat maju.

Mari kita lanjut tentang Kapitayan jawa, ini bukan HINDU, dalam keyakinan penganut Kapitayan, leluhur yang pertama kali sebagai penyebar Kapitayan adalah Dang Hyang Semar putera Sang Hyang Wungkuham keturunan Sang Hyang Ismaya.

Yang mengungsi ke Nusantara bersama saudaranya Sang Hantaga (Togog) akibat banjir besar di Negara asalnya dan akhirnya Semar tinggal di Jawa dan Togog di luar Jawa.

Sedangkan saudaranya yang lain yaitu Sang Hyang Manikmaya, menjadi penguasa alam ghaib kediaman para leluhur yang disebut Ka-Hyang-an.

Secara sederhana, Kapitayan dapat digambarkan sebagai suatu ajaran yang memuja sembahan utama yang disebut Sanghyang Taya yang bermakna hampa, kosong, suwung, awang uwung.

Suwung, Moksa, Fana, Manunggaling kawula marang Gusti, Taya bermakna yang absolute, yang tidak bisa dipikirkan dan dibayang bayangkan, tidak bisa didekati dengan panca indera.

Dasar pemahaman ini adalah membuktikan bahwa ajaran Kapitayan mengenal Tuhan yang maha Tunggal, ini bukan Animisme atau Dinamisme.

Orang jawa kuno mendefinisikan Sanghyang Taya dalam satu kalimat"Tan kena Kinaya Ngapa" yang artinya tidak bisa diapa-apakan keberadaan-Nya. Kata Taya bermakna tidak ada tapi ada, ada tetapi tidak ada.

Untuk itu agar bisa dikenal dan disembah manusia, Sanghyang Taya digambarkan mempribadi dalam nama dan sifat yang disebut Tu atau To,Yang bermakna seutas benang, daya ghaib yang bersifat Adikodrati.

Tu atau To adalah tunggal dalam dzat, Satu pribadi. Tu Lazim disebut Sanghyang Tu-nggal, Dia memiliki dua sifat, yaitu kebaikan dan ke-tidak baikan. Tu yang bersifat baik disebut Tu-han dengan nama Sanghyang Wenang.

Bentuk kontemplasi spiritual untuk mencapai kesempurnaan tampil pada arca orang duduk bersila di Borobudur, ini bukan patung Buddha. Tu yang bersifat tidak baik disebut han-Tu dengan nama Sang Manikmaya.

Baik Sanghyang Wenang dan Sang Manikmaya adalah sifat saja dari sanghyang Tunggal yang Ghaib. 

Oleh karena Sanghyang Tunggal dengan dua sifat utamanya itu bersifat ghaib, untuk memujanya dibutuhkan sarana yang bisa didekati oleh panca indera dan alam pikiran manusia.

Ajaran ini sudah ada terlebih dahulu sebelum ajaran yang bernama AGAMA ada di muka bumi, ajaran Kapitayan adalah ajaran yang masih merekam peradaban luhur Nusantara.

Begitu juga Tengger, Baduy, Kaharingan, Aluk to dololo, Marapu, Samin, Bali dan lainnya ini semua bukan Hindu, Bukan Animisme dan Dinamisme.

Tidak menyembah roh nenek moyang atau ruh yang berada di gua dan gunung...,Tidak...!!!

Ajaran asli Nusantara terdahulu lah yang mendasari ajaran yg tumbuh di india. Pada masa peradaban Lemuria surut sekitar 75.000 SM, kemudian peradaban Atlantis (yang hilang), Sekitar thn 5.000 SM, yang semua peradaban maju terdahulu itu berpusat di Nusantara, terekam dalam jejak (manuskrip) berita Ramayana dan Mahabarata. ($.wijaya)

Rabu, 20 Februari 2019

Reuni Lintas Yudha Keluarga Besar Alumni Resimen Mahasiswa 907 UNTAG Semarang

Jateng7. Semarang - Keluarga besar alumni Resimen Mahasiswa 907 UNTAG Semarang, yaitu dikomandoi oleh sang Ketum H. Harsoyo juga menjabat sebagai PR III Universitas 17 Agustus Semarang mengadakan Musker/Rakor atau konsolidasi organisasi dengan tema "Menggalang Soliditas Menjaga NKRI" sebagai konsolidasi lintas Yudha saat ini, Kamis tgl (21/02/19).

Jejak rekam perjuangan alumni 907 Untag Semarang.

Adapun acara tersebut akan dilangsungkan di Villa Vanaprastha Gedong Songo Bandungan, dengan Dansatgas Seno Susanto ST beserta semua divisi yang sudah masuk dalam kepanitiaan.

Mengenang kebesaran Batalyon 907 yang sudah berdiri awal tahun 1963 yang sudah berkiprah sejak lama, bahkan jejak rekam YON 907 saat sebagai Satgas Timor Timor maupun sebagai Satgas Pasukan Pengamanan PBB menjadi track record bahwa Resimen Mahasiswa cukup mumpuni dalam pendidikan yang termaktub dalam UU Bela Negara sebagai CadNas sesuai dengan UUD'45 pasal 30 ayat 1.

Kolaborasi sesama anggota alumni inilah yang membuat dasar diadakannya "Reuni Lintas Yudha" yang tergabung dalam Satgas Soliditas Menjaga NKRI.

Pasukan khusus berani mati ini tidak pernah kendor dalam semangat membela Negara dalam sendi sendi bermasyarakat, berbangsa dan Bernegara mencakup dalam semua aspek bidang pendidikan, hukum, ekonomi maupun kelola tata pemerintahan.

Adapun semangat itu masih terngiang dalam sebuah lagu mars kebesaran 907 ;

Tinggalkan Ayah Ibu, tinggalkan ayah tinggalkan ibu, ijinkan kami pergi berjuang, di bawah kibaran sang merah putih, majulah ayo maju menyerbu...SERBU...tidak kembali pulang...

Sebelum kita yang menang..PASTI MENANG, walau mayat terdampar di medan perang, untuk bangsa kami kan berjuang, maju ayo maju ayo terus maju, singkirkanlah dia..dia..dia.

Kikis habislah mereka musuh negara
Wahai kawanku resimen mahasiswa
Dimana engkau berada, teruskan perjuangan para pahlawan, demi bangsa kami kan berjuang.

Semangat Menwa di dalam pertempuran tidak pernah masuk koran, Mati dalam perang suatu kebanggaan, Komando baret ungu pasukan berani mati, Majulah ayo terus maju, Sampai titik darah penghabisan.

Suatu kebanggaan tersendiri bahwasanya seluruh anggota keluarga besar KAMENWA 907 UNTAG Semarang bisa hadir mewarnai reuni lintas Yudha ini, berharap berkumpul maupun mengenang kembali masa yang sudah lampau terlewati itu.

Gedong Songo tanggal 23 - 24 Maret 2019.

Kehadiran seluruh para Alumni 907 akan menjadi sebuah memontum dari sebuah sejarah besar yang akan dicatat oleh sejarawan bahwa eksistensi dan keberadaan "KAMENWA" 907 memberikan sumbangsih yang cukup besar kepada Bangsa dan Negara Republik Indonesia. (Catur Yoga)

Sabtu, 16 Februari 2019

Hari PERS Nasional Forum Wartawan Pati Gelar Tasyakuran Bersama Bupati Pati

Jateng7. Pati - Tasyakuran Hari Pers Nasional (HPN) 2019 digelar di tempat spesial di Pati, yakni Pusat Kuliner Pati, tepatnya di belakang Gedung Olah Raga (GOR) pati Pesantenan turut Desa Puri, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Sabtu tgl (16/02/19).

Mr. Didik Handoyo saat pemotongan tumpeng bersama Bupati Haryanto.

Kegiatan hari pers ini dihadiri oleh Bupati Pati Haryanto, Wakil Bupati Pati Saiful Arifin, Sekda Pati Suharyono, Kapolres Pati AKBP Jon Wesly Arianto SIK, Dandim Pati Letkol Arm Arief Darmawan S.Sos, segenap OPD Kabupaten Pati, serta Wartawan Pati.

Ketua Forum Wartawan Pati (FWP) Alman Eko Darmo yang juga ketua panitia kegiatan mengucapkan terimakasih atas kehadiran Forkopimda dan jajaran OPD Kabupaten Pati.

Dalam memperingati Hari Pers Nasional HPN juga mengadakan hiburan OM Mahabarata dan ketoprak Laras Budoyo “dalam wadah perkumpulan Forum Wartawan Pati (FWP) ini harapannya, pers di Kabupaten Pati dapat membangun menguatkan ekonomi kerakyatan berbasis digital.

Dalam sambutannya, Bupati Haryanto mengapresiasi kegiatan di tempat baru tersebut. Pihaknya berharap, wartawan atau jurnalis di Pati untuk memerangi tersebarnya hoax yang marak di media sosial," ujarnya.

Tidak terlepas itu FWP sebagai forum wartawan Pati menjadi komunitas awak media yang tergabung dalam para jurnalis online maupun mingguan yang sekretariatnya ada di TPA Sukoharjo Pati. ($.boy)

Selasa, 15 Januari 2019

Tenggelamnya KRI Macan Tutul Bersama Komodor Yos Soedarso

TH.Indonesia. Sejarah - "Ketika Si Bung Murka Tenggelamnya KRI Matjan Tutul berujung kepada pemberhentian KASAU Suryadarma dan diadakannya Operasi Jayawijaya.

KRI Matjan Tutul yang bertarung sendirian melawan kapal kapal perang Belanda.

Apa yang terjadi usai KRI Matjan Tutul dikeroyok oleh tiga kapal perang Belanda? Dalam pelariannya di atas KRI Harimau, Kolonel Sudomo dengan sigap segera mengirim kawat ke MBAL (Markas Besar Angkatan Laut) di Jakarta. Dia meminta agar MBAL mengontak MBAU (Markas Besar Angkatan Udara) agar secepatnya mengirimkan pesawat-pesawat pembom AURI untuk membantu posisi KRI Matjan Tutul.

“Saya meminta mereka untuk membom saja kapal-kapal Belanda yang sedang mengejar tersebut, karena jelas mereka semua sudah memasuki wilayah perairan territorial Indonesia,” ujar Sudomo kepada Julius Pour dalam Laksamana Sudomo:Mengatasi Gelombang Kehidupan.

Alih-alih terlaksana, permintaan Sudomo itu malah tak mendapat respon apapun. Mengetahui gelagat seperti itu, Asisten Operasi KASAD Kolonel Moersjid yang saat itu ada di dalam KRI Harimau, menjadi geram. Belakangan, diketahui bahwa meskipun kawat itu sampai ke MBAU, namun pihak AURI mengalami kesukaran teknis operasional untuk mewujudkan suatu permintaan yang sifatnya mendadak dan tidak terencana.

Presiden Marah, begitu sampai di pangkalan, Kolonel Moersjid langsung terbang ke Jakarta. Setiba di ibu kota, dia lantas menemui Menteri Panglima Angkatan Darat Jenderal A.H. Nasution. 

Moersjid melaporkan semua yang dia alami di Arafuru, termasuk respon negatif AURI. Nasution menanggapinya dengan diam seribu basa. Moersjid kesal, lantas berkata kepada atasannya itu:

“Jenderal takut melaporkan kenyataan ini?”
Hening sejenak. Namun keluar juga ucapan dari Nasution.

“Hari ini akan ada sidang Dewan Pertahanan Nasional di Istana Bogor, silakan Kolonel ikut ke sana…”

Empat hari setelah kejadian Insiden Arafuru, Moersjid melangkah ke ruang rapat di Istana Bogor. 

Di hadapan Presiden Sukarno dan para perwira tinggi, secara emosional dia menceritakan apa yang dia alami selama ada di palagan Arafuru. “Saya tak pedulikan semuanya. 

Pangkat saya hanya kolonel, pangkat paling rendah dari seluruh hadirin di ruangan tersebut. Saya nothing to lose, maka saya beberkan saja semuanya dengan lugas. 

Omong kosong AURI mampu menjaga wilayah udara Indonesia up to the minute, omong kosong karena tak seekor pun (pesawat) capung muncul ketika kapal kami diserang…”

Mendengar laporan langsung dari Moersjid, wajah Presiden Sukarno menjadi merah padam. Nampak sekali Si Bung menjadi murka. Dia lantas membuat rapat terbatas bersama panglima dari ketiga angkatan: Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

Saat memasuki ruang rapat itulah, tetiba Kasal R.E. Martadinata langsung menunjuk muka Kasau Suryadarma. “Mengapa AURI tidak membantu kapal saya?!” tanyanya sambil terlihat emosional.

Suryadarma yang merasa tak pernah dilibatkan dalam operasi itu tentu saja tak bisa menerima begitu saja dirinya disalahkan. 

Menurutnya, tak ada alasan bagi AURI untuk menolak tugas jika memang sebelumnya sudah dikonfirmasi mengenai suatu operasi rahasia. 

“Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada surat tembusan ke AURI bahwa ALRI sedang mengadakan operasi,” jawab Suryadarma dalam biografinya Bapak Angkatan Udara: Suryadi Suryadarma karya Adityawarman Suryadarma.

Usai rapat, Suryadarma langsung menuju MBAU. Dari seluruh berita yang masuk melalui PHB Langgur ditemukan satu berita SOS yang berasal dari KRI Matjan Tutul (bukan dari KRI Harimau). 

Namun ketika dikonfirmasi oleh PHB Langgur, taka da respon sama sekali dari sana. Saat itu juga, PHB Langgur menindaklanjuti dengan melakukan cross-check ke PHB Cililitan, dilanjutkan dengan menanyakan kepada piket Komando Mandala. Namun piket Komando Mandala pun menyatakan tak tahu menahu tentang adanya kegiatan operasi tersebut.

Suryadarma Diberhentikan
Merasa tidak ada yang salah dengan AURI, dalam rapat kedua di Istana Merdeka bersama Bung Karno dan Kasad Nasution serta Kasal Martadinata, Kasau Suryadarma menyatakan bahwa AURI tak bisa disalahkan dalam kasus tersebut. 

“Bagaimana AURI bisa membantu kalau tidak tahu adanya kegiatan kalian. Kita harus lebih terbuka dalam merencanakan semua kegiatan operasi…” ujar Suryadarma.

Apapun yang terjadi, Bung Karno terlanjur marah akibat Insiden Arafuru tersebut. Kepada ketiga kepala staf itulah, dia lantas bertanya: siapkah untuk melakukan aksi balas dendam kepada Belanda? Martadinata dan Nasution menyatakan siap. Hanya Suryadarma yang menyatakan tidak.

Dalam biografinya, Suryadarma menyatakan tidak yakin dengan kekuatan personilnya. Jika keinginan Bung Karno, bahwa tentara kita harus diterjunkan secara besar-besaran di Irian itu artinya Indonesia sudah menyatakan perang terbuka kepada Belanda. 

Untuk perang terbuka, kata Suryadarma, PGT (Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara) tentu saja belum memiliki kemampuan itu. Mereka hanya bisa melakukan operasi terbatas saja. 

Soal perlengkapan komunikasi antar pasukan pun dinyatakan masih minim. 

Singkatnya, Suryadarma tidak ingin mengorbankan jiwa prajurit-prajuritnya secara sia-sia, hanya untuk menyenangkan hati Bung Karno.

Kepada Si Bung, Suryadarma juga memaparkan bagaimana masalah akan terjadi jika pesawat-pesawat pembom AURI tidak mendapat pangkalan yang layak untuk menyerang posisi Belanda di Irian. 

“Kita memang punya Morotai, tapi terlalu jauh dari Irian. Adapun pangkalan udara Leftuan dan Langguran yang relatif dekat dengan Irian, kondisinya tidak memenuhi syarat untuk didarati oleh MIG-21…” ungkap Suryadarma.

Alih-alih bisa menerima alasan Suryadarma, Bung Karno malah menarik Nasution dan Martadinata ke ruang sebelah. Mereka meninggalkan Suryadarma sendirian. 

Suryadarma sendiri mengakui dia sangat kecewa diperlakukan demikian oleh pimpinan tertingginya.

Setelah beberapa lama, Bung Karno dan kedua kepala staf kembali ke ruangan di mana Suryadarma berada. Dengan suara berat namun tegas, ia menyatakan memberhentikan Suryadarma dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Udara dan mengangkat Omar Dani sebagai penggantinya. 

Tentu saja, sebagai seorang tentara, tak ada sikap lain selain menerima pemberhentian itu secara lapang dada.

Sepeninggal Suryadarma, operasi “balas dendam” pun dirancang. Awalnya aksi militer yang diberi sandi “Operasi Jayawijaya” itu akan dilakukan pada 12 Agustus 1962. 

Lantas karena banyak kendala, kemudian dimundurkan menjadi tanggal 19 Agustus 1962. 

Sebelum terjadi, empat hari pra operasi, markas besar PBB di New York mengumumkan bahwa perundingan antara Indonesia dengan Belanda telah berhasil mencapai suatu kesepakatan: Belanda akan angkat kaki dari Irian Barat pada 1 Mei 1963, Maka otomatis Operasi Jayawijaya pun tidak jadi diselenggarakan. (Z.rozi)

Related Post

.